Panggilan ke Baitullah adalah kerinduan mendalam yang dirasakan banyak Muslim untuk mengunjungi Makkah dan berdiri di hadapan Ka'bah. Kerinduan ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, melainkan berakar pada doa Nabi Ibrahim agar hati manusia condong ke Tanah Suci. Bagi para jemaah, terkabulnya keinginan untuk berangkat sering dimaknai sebagai undangan langsung dari Allah, sebuah panggilan yang akhirnya dijawab setelah lama tersimpan di dalam hati.
Dari mana asal kerinduan ke Baitullah?
Al-Qur'an mengisahkan doa Nabi Ibrahim ketika menempatkan keluarganya di lembah Makkah yang tandus, agar Allah menjadikan hati sebagian manusia cenderung kepada mereka (QS Ibrahim ayat 37). Doa inilah yang dipercaya menjadi sebab mengapa hingga kini jutaan Muslim dari seluruh penjuru dunia datang berbondong-bondong ke Makkah setiap tahun. Kerinduan ke Baitullah bukan sekadar minat berwisata ke negeri jauh, melainkan tarikan spiritual yang sudah dirancang sejak awal sejarah berdirinya Ka'bah. Setiap Muslim yang menghadap kiblat lima kali sehari, sadar atau tidak, sedang memupuk rindu untuk suatu saat melihatnya secara langsung.
Mengapa terkabulnya umroh disebut undangan Allah?
Banyak orang memiliki harta lebih dari cukup, namun belum tergerak hatinya atau belum dimudahkan jalannya untuk berangkat. Sebaliknya, ada orang yang secara materi pas-pasan, tetapi Allah membukakan jalan dari arah yang tidak disangka hingga akhirnya sampai ke Makkah. Pengalaman semacam ini berulang dari masa ke masa, dan itulah yang membuat para ulama serta jemaah memaknai keberangkatan sebagai panggilan, bukan semata hasil usaha pribadi. Maka, ketika seseorang diberi kemudahan untuk berumroh, sikap yang tepat adalah bersyukur dan tidak menunda, karena tidak ada yang tahu kapan panggilan itu akan datang lagi.
Seberapa besar kerinduan Muslim Indonesia ke Tanah Suci?
Kerinduan Muslim Indonesia ke Tanah Suci tampak jelas dari data terbaru. Sepanjang musim umrah 2025, Indonesia menjadi negara pengirim jemaah umrah terbanyak kedua di dunia setelah Pakistan, dengan ratusan ribu jemaah berangkat hanya dalam beberapa bulan pertama tahun itu. Di tengah masa tunggu haji reguler yang kini diseragamkan sekitar 26,4 tahun, umroh menjadi cara utama bagi umat untuk menjawab panggilan hati lebih cepat. Bagi banyak keluarga, menabung bertahun-tahun demi sekali berumroh adalah bukti betapa kuatnya tarikan Baitullah dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pilihan untuk mewujudkan niat umroh
Ketika panggilan itu akhirnya datang, kesiapan layanan sangat menentukan kelancaran ibadah. Alburaq sebagai penyelenggara umroh tangan pertama menyiapkan paket Umroh Ramadhan Series dengan penginapan di Hotel Owais, sekitar 150 meter dari Masjidil Haram. Kedekatan ini membuat jemaah dapat menjawab kerinduannya pada Ka'bah kapan saja, di setiap waktu shalat, tanpa terhalang jarak yang jauh. Dengan kuota yang terbatas, persiapan sejak dini menjadi langkah bijak untuk memenuhi panggilan tersebut.
Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ)
Apa tanda seseorang dipanggil ke Baitullah?
Tidak ada tanda yang pasti dalam syariat. Yang jelas, kemudahan jalan, tergeraknya hati, dan terkumpulnya biaya sering dimaknai oleh jemaah sebagai bentuk kemudahan dari Allah.
Apakah orang yang belum berangkat berarti belum dipanggil?
Tidak demikian. Banyak faktor yang menentukan waktu keberangkatan seseorang. Yang dianjurkan adalah terus berdoa, berusaha menabung, dan menjaga niat agar tetap lurus.
Apa yang sebaiknya dilakukan sambil menunggu kesempatan berangkat?
Perbanyak doa, niatkan dengan tulus, sisihkan tabungan secara konsisten, dan jaga amal harian agar hati semakin siap menerima panggilan.
Referensi
- QS Ibrahim ayat 37.
- QS Al-Hajj ayat 27.
- Al Arabiya via Madaninews.id, peringkat jemaah umrah dunia 2025.
- detikHikmah, estimasi masa tunggu haji 2026.