Multazam adalah bagian dinding Ka'bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, dengan jarak sekitar dua meter. Tempat ini dikenal sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa. Dinamakan Multazam karena berasal dari kata yang berarti memeluk atau melekat, mengingat jamaah merapatkan tubuhnya ke dinding Ka'bah saat berdoa di sana.
Di mana letak Multazam?
Menurut riwayat masyhur dari Ibnu Abbas, Multazam berada di antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Ibnu Abbas menyebutkan keutamaannya, bahwa tidaklah seseorang berdoa kepada Allah di Multazam meminta sesuatu, kecuali Allah akan memberinya (HR Baihaqi). Imam Nawawi dalam Al-Adzkar juga menganjurkan berdoa di tempat ini setelah tawaf.
Bagaimana adab berdoa di Multazam?
Berdasarkan riwayat dari Amr bin Syu'aib, Rasulullah menempelkan dada, wajah, kedua lengan, dan kedua telapak tangannya ke dinding Ka'bah, lalu berdoa (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani). Cara ini menjadi tuntunan adab di Multazam.
- Selesaikan tawaf tujuh putaran lebih dahulu.
- Menuju area antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah.
- Tempelkan dada, pipi, kedua lengan, dan telapak tangan ke dinding Ka'bah.
- Berdoa dengan khusyuk memohon hajat, ampunan, dan perlindungan dari api neraka.
Apa yang perlu diperhatikan saat ramai?
Karena Multazam selalu diburu jamaah, area ini sering sangat padat. Para ulama mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan diri atau berdesakan hingga menyakiti orang lain. Bila tidak memungkinkan mendekat, jamaah tetap boleh berdoa dari tempat yang lapang, sebab keutamaan berdoa tidak terbatas pada menempelnya badan.
Mengapa Multazam menjadi tempat mustajab?
Para ulama menyebut beberapa alasan keistimewaan Multazam, di antaranya kedekatannya dengan Ka'bah dan Hajar Aswad yang diletakkan Nabi Ibrahim, serta kemuliaan tempat itu sendiri. Yang terpenting bukan sekadar lokasinya, melainkan kerendahan hati dan kesungguhan jamaah saat memohon kepada Allah. Doa yang tulus dengan hati yang hadir lebih utama daripada sekadar berhasil menyentuh dindingnya.
Karena suasana di sekitar Ka'bah menuntut ketenangan dan kehati-hatian, pembimbing ibadah yang berpengalaman akan mengarahkan jamaah agar tetap aman dan khusyuk. Menginap dekat Masjidil Haram juga memudahkan jamaah kembali ke Multazam pada waktu yang lebih lengang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah doa harus berbahasa Arab di Multazam?
Tidak. Jamaah boleh berdoa dengan bahasa yang dipahami, memohon segala hajat dunia dan akhirat dengan penuh kekhusyukan.
Kapan waktu terbaik berdoa di Multazam?
Umumnya setelah tawaf, namun boleh kapan saja. Memilih waktu yang lebih lengang membantu jamaah berdoa lebih tenang.
Bagaimana jika tidak bisa menyentuh dinding Ka'bah?
Tetap boleh berdoa dari kejauhan. Menempelkan badan hanyalah adab yang dianjurkan, bukan syarat dikabulkannya doa.
Dengan memahami keutamaan dan adabnya, Bapak/Ibu dapat memanfaatkan Multazam sebagai tempat memanjatkan doa terbaik, tanpa memaksakan diri dan tetap menjaga ketertiban.
Referensi
- MUI, Doa dan Amalan saat Berada di Multazam (HR Abu Dawud, Baihaqi). https://mui.or.id/baca/bimbingan/doa-dan-amalan-saat-berada-di-multazam-tempat-di-antara-pintu-kabah-dan-hajar-aswad-6a02acc9e68f8
- Almanhaj, Apa Itu Multazam (HR Abu Dawud 1899, Ibnu Majah 2962, sahih Al-Albani). https://almanhaj.or.id/9568-apa-itu-multazam-dan-bagaimana-cara-berdoa-di-sisinya.html
- Detik, Keistimewaan Multazam Tempat Mustajab untuk Berdoa. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6178892/keistimewaan-multazam-tempat-mustajab-untuk-berdoa-di-tanah-suci