Setiap muslim mendambakan bisa ke Tanah Suci karena adanya panggilan iman, keutamaan ibadah yang dilipatgandakan, serta kerinduan kepada Baitullah di Makkah dan kota Rasulullah di Madinah. Dambaan ini tumbuh dari keterikatan ruhani yang menyatukan hati umat Islam dengan pusat ibadah mereka.
Apa yang mendorong dambaan ini?
Dambaan ke Tanah Suci berakar pada doa Nabi Ibrahim agar hati manusia condong kepada Baitullah, serta seruan haji yang membuat manusia datang dari segala penjuru. Sebagai kiblat dan pusat ibadah, Makkah memiliki tarikan batin yang kuat. Di sisi lain, Madinah menyimpan kerinduan kepada Rasulullah yang menjadikan umat ingin menziarahinya.
Mengapa dambaan ini dirasakan hampir semua muslim?
Ibadah di Tanah Suci memiliki keutamaan yang tidak ditemukan di tempat lain, seperti pahala salat yang dilipatgandakan dan kesempatan menunaikan rangkaian ibadah yang istimewa. Keutamaan ini menjadikan setiap muslim ingin merasakannya. Selain itu, kisah para jamaah yang pernah berkunjung turut menularkan kerinduan kepada yang belum berkesempatan.
Dambaan ini juga bersifat lintas generasi dan kondisi. Baik yang muda maupun yang tua, yang berkecukupan maupun yang sederhana, sama-sama menyimpan harapan untuk bisa beribadah di sana. Hal ini menunjukkan bahwa kerinduan ke Tanah Suci bukan dipicu kemampuan materi semata, melainkan oleh getaran iman yang mendalam.
Bagaimana menyikapi dambaan ke Tanah Suci?
Dambaan ini sebaiknya dirawat dengan doa, niat yang ikhlas, dan usaha mempersiapkan diri. Jadikan ia motivasi untuk memperbaiki ibadah dan menjaga ketaatan, bukan sekadar angan-angan. Dengan menyerahkan waktunya kepada Allah, seorang muslim tetap tenang menanti, sembari terus berusaha menjemput kesempatan tersebut.
Merawat dambaan ke Tanah Suci dengan doa dan ketaatan menjadikannya bernilai ibadah, bukan sekadar angan. Dengan menyerahkan waktunya kepada Allah, seorang muslim tetap tenang dalam penantian, sembari menjadikan kerinduan itu sebagai pendorong untuk terus memperbaiki diri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah dambaan ke Tanah Suci termasuk bagian dari iman?
Kerinduan dan dambaan untuk beribadah di Tanah Suci mencerminkan keterikatan hati kepada Allah dan ajaran-Nya. Hal ini tumbuh dari iman dan kecintaan kepada ibadah serta kepada Rasulullah. Karena itu, dambaan semacam ini patut disyukuri dan dirawat dengan baik.
Bagaimana jika dambaan ini belum bisa terwujud?
Teruslah berdoa dan berusaha tanpa berputus asa, karena waktu terwujudnya berada dalam kehendak Allah. Isi masa penantian dengan ketaatan dan persiapan. Niat yang tulus untuk beribadah ke Tanah Suci pun telah bernilai di sisi Allah meski kesempatannya belum tiba.
Referensi
- Al-Qur'an, Surah Ibrahim ayat 37 (doa Nabi Ibrahim agar hati manusia cenderung kepada Baitullah).
- Al-Qur'an, Surah Al-Hajj ayat 27 (seruan haji yang membuat manusia datang dari segala penjuru yang jauh).
- HR Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah (salat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali daripada masjid lain, kecuali Masjidil Haram).