Melihat Hajar Aswad bagi seorang muslim memiliki makna mendalam karena batu ini disebut dalam riwayat turun dari surga dan menjadi bagian mulia dari Ka'bah. Menyentuh atau menciumnya adalah sunnah yang dilakukan mengikuti teladan Rasulullah, bukan karena batu itu memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.
Apa keistimewaan Hajar Aswad?
Dalam sebuah riwayat yang dinilai hasan, Rasulullah menyebutkan bahwa Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih dari susu, lalu menghitam karena dosa-dosa manusia. Batu ini berada di salah satu sudut Ka'bah dan menjadi titik awal serta akhir dalam tawaf. Keistimewaan sejarah inilah yang membuatnya begitu dimuliakan.
Bagaimana sikap yang benar terhadap Hajar Aswad?
Sikap yang benar telah dicontohkan oleh Umar bin Khattab yang mencium Hajar Aswad sambil menegaskan bahwa batu itu hanyalah batu yang tidak memberi manfaat maupun mudarat. Ia menciumnya semata karena mengikuti Rasulullah. Sikap ini mengajarkan bahwa pengagungan dan ibadah hanya ditujukan kepada Allah, bukan kepada batu tersebut.
Menyentuh atau mencium Hajar Aswad adalah sunnah yang dianjurkan bila memungkinkan. Namun bila area terlalu ramai, jamaah cukup memberi isyarat tangan ke arahnya tanpa memaksakan diri hingga berdesakan atau menyakiti orang lain. Menjaga keselamatan dan ketertiban lebih diutamakan daripada memaksa menyentuhnya.
Apa makna ruhani di balik momen ini?
Momen di dekat Hajar Aswad mengingatkan seorang muslim pada ketaatan dalam mengikuti sunnah, meski tidak selalu memahami seluruh hikmahnya. Ia juga menumbuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa ibadah adalah bentuk kepatuhan kepada Allah. Pengalaman ini menjadi pelajaran tentang keikhlasan dan keteladanan kepada Rasulullah.
Pada akhirnya, momen di dekat Hajar Aswad mengajarkan ketaatan dalam mengikuti sunnah dan kemurnian pengagungan hanya kepada Allah. Memahami sikap yang benar terhadapnya menjaga ibadah tetap lurus, sekaligus menumbuhkan kerendahan hati dan keteladanan kepada Rasulullah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah Hajar Aswad memiliki kekuatan tertentu?
Tidak. Sebagaimana ditegaskan Umar bin Khattab, Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberi manfaat maupun mudarat dengan sendirinya. Menyentuh atau menciumnya adalah sunnah mengikuti Rasulullah, sedangkan segala manfaat dan pengagungan hanya berasal dari dan ditujukan kepada Allah.
Apakah wajib menyentuh Hajar Aswad saat tawaf?
Tidak wajib. Menyentuh atau menciumnya adalah sunnah bila memungkinkan. Bila tidak memungkinkan karena keramaian, cukup memberi isyarat tangan ke arahnya. Memaksakan diri hingga berdesakan dan menyakiti orang lain justru tidak dianjurkan, karena keselamatan lebih diutamakan.
Referensi
- HR Tirmidzi no. 877, hasan, dari Ibnu Abbas (Hajar Aswad turun dari surga lebih putih dari susu, lalu menghitam karena dosa manusia).
- HR Bukhari no. 1597 dan Muslim no. 1270, dari Umar bin Khattab (Umar mencium Hajar Aswad dan menyatakan ia hanyalah batu yang diikuti karena mencontoh Rasulullah).
- Al-Qur'an, Surah Ali Imran ayat 96 (Baitullah di Bakkah adalah rumah ibadah pertama yang diberkahi).