Banyak orang lupa bersyukur saat rezeki berlimpah karena terlena oleh kenikmatan, merasa keberhasilan murni hasil usaha sendiri, dan sibuk menikmati dunia hingga lalai mengingat pemberi nikmat. Padahal justru di saat lapang, rasa syukur paling diuji dan paling dibutuhkan untuk menjaga keberkahan.
Mengapa kelapangan rezeki sering membuat lalai?
Saat berkecukupan, manusia cenderung merasa aman dan menganggap nikmat sebagai sesuatu yang biasa. Allah menggambarkan sebagian manusia yang ketika diberi kemuliaan dan kecukupan berkata bahwa Tuhannya telah memuliakannya, seolah itu semata haknya. Sikap ini menumbuhkan kelalaian, berbeda dengan saat kesulitan yang justru mendekatkan diri kepada Allah.
Apa bahaya melupakan syukur saat berlimpah?
Lupa bersyukur dapat mencabut keberkahan dari harta yang banyak. Bermegah-megahan dan menumpuk kekayaan tanpa rasa syukur termasuk hal yang melalaikan manusia hingga lupa tujuan hidup. Harta yang melimpah tanpa syukur kerap berubah menjadi sumber kegelisahan, ketamakan, dan jarak dari Allah, bukan kebahagiaan yang diharapkan.
Sebaliknya, syukur dijanjikan sebagai kunci bertambahnya nikmat, sedangkan kufur nikmat membuka pintu hilangnya keberkahan. Karena itu, melupakan syukur di saat lapang berisiko menjadikan kelimpahan sebagai ujian yang memberatkan, bukan anugerah yang menentramkan.
Bagaimana cara menjaga syukur saat rezeki berlimpah?
Biasakan menyadari bahwa setiap rezeki berasal dari Allah, lalu wujudkan syukur dengan lisan, hati, dan perbuatan. Perbanyak sedekah, tunaikan zakat, dan gunakan harta untuk kebaikan. Sesekali lihatlah orang yang kekurangan agar tumbuh rasa cukup dan empati. Kesadaran inilah yang menjaga hati tetap rendah hati di tengah kelapangan.
Menjaga syukur saat berlimpah memang tidak mudah, tetapi di situlah letak kemuliaannya. Orang yang tetap rendah hati dan ringan berbagi di tengah kelapangan justru memperkokoh keberkahan hartanya dan menjadikan kelimpahan sebagai anugerah yang menentramkan, bukan ujian yang melalaikan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa justru saat susah orang lebih mudah ingat Allah?
Saat kesulitan, manusia merasakan keterbatasannya sehingga lebih mudah bergantung dan memohon kepada Allah. Sebaliknya, saat lapang, rasa cukup kerap membuat lalai. Karena itu, menjaga syukur di waktu senang justru menunjukkan kematangan iman seseorang.
Apa tanda seseorang benar-benar bersyukur atas hartanya?
Tandanya adalah mengakui nikmat berasal dari Allah, menggunakannya untuk hal yang diridhai, dan ringan berbagi dengan sesama. Orang yang bersyukur tidak diperbudak harta, melainkan menjadikannya sarana kebaikan dan tetap merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Referensi
- Al-Qur'an, Surah Al-Fajr ayat 15 sampai 16 (sikap manusia saat diberi dan saat dibatasi rezekinya).
- Al-Qur'an, Surah At-Takatsur ayat 1 sampai 2 (bermegah-megahan yang melalaikan manusia).
- Al-Qur'an, Surah Ibrahim ayat 7 (janji Allah menambah nikmat bagi yang bersyukur).