Setelah berniat ihram, jamaah masuk ke kondisi muhrim dan terikat sejumlah larangan, seperti memakai wewangian, memotong rambut atau kuku, dan berhubungan suami istri. Sebagian besar pelanggaran berkonsekuensi membayar dam, namun tidak membatalkan umroh. Hanya jima sebelum tahallul yang membatalkan sekaligus mewajibkan dam berat. Memahami daftar larangan ini sejak awal membantu jamaah menjaga ihram tetap utuh dan terhindar dari denda yang tidak perlu.
Apa larangan yang berlaku untuk semua jamaah?
- Memakai wewangian setelah niat ihram, baik dioles maupun disemprot.
- Mencukur atau mencabut rambut serta bulu badan.
- Memotong kuku tangan maupun kaki.
- Memburu atau membunuh binatang darat yang halal dimakan.
- Melakukan akad nikah, menikahkan, atau meminang.
- Berhubungan suami istri, serta berkata kotor dan bertengkar.
Apa larangan khusus pria dan wanita?
Para ulama menjelaskan, pria dilarang memakai pakaian berjahit yang membentuk tubuh dan menutup kepala. Adapun wanita dilarang menutup wajah dengan cadar yang menempel dan memakai sarung tangan, meski tetap wajib menutup aurat dengan pakaian biasa yang longgar dan sopan.
Apa konsekuensi melanggarnya?
Untuk pelanggaran seperti memotong rambut, memotong kuku, atau memakai wewangian, jamaah memilih salah satu dam, yaitu menyembelih kambing, memberi makan enam fakir miskin, atau berpuasa tiga hari, sebagaimana QS Al-Baqarah ayat 196. Sebagian ulama meringankan bila pelanggaran terjadi karena lupa, tidak tahu, atau terpaksa. Adapun jima sebelum tahallul membatalkan umroh dan mewajibkan dam berupa unta disertai kewajiban mengulang.
Banyak pelanggaran terjadi murni karena ketidaktahuan. Karena itu, bimbingan manasik sebelum berangkat dan pendampingan pembimbing di Tanah Suci sangat membantu jamaah menghindari dam yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Apa hikmah di balik larangan ihram?
Larangan ihram mendidik jamaah menahan diri, menumbuhkan kesabaran, dan menampakkan kesetaraan di hadapan Allah dengan pakaian yang sederhana. Dengan menahan hal-hal yang biasanya dibolehkan, jamaah belajar mengutamakan ketaatan di atas keinginan pribadi. Para ulama memandang masa ihram sebagai latihan kedisiplinan ruhani, sehingga pelanggaran sebaiknya dihindari bukan semata karena takut dam, melainkan demi kesempurnaan ibadah.
Penyelenggara yang membekali jamaah dengan manasik dan pembimbing yang mendampingi langsung menjadi salah satu kriteria yang banyak dipertimbangkan calon jamaah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah memakai masker membatalkan ihram?
Masker untuk alasan kesehatan dibolehkan. Yang dilarang bagi wanita adalah cadar yang menempel di wajah sebagai pakaian, bukan masker medis.
Bagaimana jika melanggar larangan karena lupa?
Sebagian ulama meringankan kewajiban dam bila pelanggaran terjadi karena lupa, tidak tahu, atau terpaksa, terutama untuk perkara ringan.
Kapan larangan ihram berakhir?
Larangan berakhir setelah tahallul, yaitu mencukur atau memendekkan rambut, sehingga seluruh larangan kembali dibolehkan.
Dengan mengenali larangan ihram dan konsekuensinya, Bapak/Ibu dapat menjaga ihram tetap utuh dan ibadah berlangsung tenang tanpa kekhawatiran.
Referensi
- Kementerian Agama RI, Larangan saat Berihram. https://haji.kemenag.go.id/v5/detail/jemaah-diminta-patuhi-larangan-saat-berihram-apa-saja
- Pimpinan Pusat Aisyiyah, Larangan Ihram dan Hikmahnya. https://aisyiyah.or.id/jelang-puncak-haji-ketahui-larangan-ihram-dan-hikmahnya/
- Rumaysho, Memahami Fidyah dan Damm (QS Al-Baqarah 196). https://rumaysho.com/2857-memahami-fidyah-dan-damm-dalam-haji.html