Bapak/Ibu, pernahkah hati Anda dihinggapi satu kekhawatiran yang sulit diucapkan: “Apakah saya masih diberi umur hingga giliran haji saya tiba?” Kekhawatiran itu sangat wajar. Daftar tunggu haji di Indonesia termasuk yang terpanjang di dunia, dan banyak calon jamaah—terutama yang sudah lanjut usia—diam-diam takut dipanggil Allah sebelum sempat berdiri di Padang Arafah. Di tengah penantian yang panjang itu, Islam membuka satu pintu rahmat yang sering terlupakan: umroh di bulan Ramadhan, yang pahalanya disebut setara dengan ibadah haji.
Jawaban singkat: Umroh yang dikerjakan selama bulan Ramadhan memiliki pahala (fadhilah) yang setara dengan haji, berdasarkan hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim. Namun perlu dipahami, secara hukum umroh Ramadhan tidak menggugurkan kewajiban haji bagi yang sudah mampu.
Antrian Haji Kini 26 Tahun: Wajar Bila Hati Cemas
Kabar resminya begini: mulai 2026, pemerintah menyeragamkan masa tunggu haji reguler menjadi sekitar 26 tahun untuk seluruh provinsi, melalui kebijakan baru di bawah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Sebelumnya, masa tunggu sangat bervariasi—di sejumlah daerah bahkan menembus 47 tahun. Artinya, seseorang yang mendaftar haji pada tahun 2026 diperkirakan baru akan berangkat sekitar tahun 2052.
Angka ini terasa semakin berat bila dikaitkan dengan usia. Bayangkan seorang Bapak yang baru mendaftar di usia 60 tahun; dengan masa tunggu 26 tahun, beliau baru berangkat di usia 86 tahun—itu pun jika Allah masih memberi umur dan kekuatan fisik untuk menempuhnya.
Kekhawatiran ini bukan mengada-ada. Menurut data Kementerian Haji dan Umrah RI, dari sekitar 5,6 juta calon jamaah dalam daftar tunggu nasional, lebih dari 677 ribu di antaranya sudah berusia lanjut (65 tahun ke atas). Tidak sedikit yang diam-diam takut dipanggil Allah sebelum sempat berdiri di Tanah Suci. Kerinduan sebesar itu sangat layak mendapat penghiburan.
Benarkah Pahala Umroh Ramadhan Setara Haji?
Ya, dan keutamaan ini bersumber langsung dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah riwayat, ada seorang wanita Anshar bernama Ummu Sinan yang tidak dapat ikut berhaji bersama Nabi karena keterbatasan kendaraan. Beliau kemudian bersabda kepadanya:
فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً
“Apabila Ramadhan tiba, berumrohlah, karena sungguh umroh di bulan itu setara dengan (pahala) haji.”
(HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256)
Dalam riwayat lain bahkan disebutkan dengan lafaz “setara dengan haji bersamaku.” Inilah kabar gembira yang luar biasa: sebuah ibadah umroh—yang dari sisi waktu dan biaya jauh lebih ringan—dapat meraih pahala sebesar ibadah haji, asalkan dikerjakan di bulan yang penuh berkah ini.
Mengapa Harus di Bulan Ramadhan?
Ramadhan bukan bulan biasa. Ia adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan dibukanya pintu-pintu surga, dan bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan nilainya pada bulan ini. Karena itu, ketika umroh dikerjakan di tengah keberkahan Ramadhan, pahalanya pun terangkat hingga menyamai haji. Inilah kemurahan Allah: membuka jalan yang lebih ringan menuju pahala yang sangat besar.
Catatan Penting: Setara Pahala, Bukan Pengganti Kewajiban
Di sinilah letak pemahaman yang sering keliru. Mayoritas ulama (jumhur) menjelaskan bahwa kalimat “setara dengan haji” bermakna setara dalam pahala dan keutamaan, bukan berarti umroh Ramadhan menggugurkan kewajiban haji.
Artinya, seseorang yang belum pernah menunaikan haji wajib—padahal ia mampu secara fisik maupun finansial—tetap berkewajiban menunaikan haji. Maka umroh Ramadhan sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk menunda niat dan pendaftaran haji. Posisikan ia sebagai pelengkap dan penyempurna, bukan pengganti.
Penghibur bagi Hati yang Menunggu
Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah mendaftar haji dengan niat tulus, tetapi wafat sebelum gilirannya tiba? Di sinilah luasnya rahmat Allah memberi ketenangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang hamba yang telah berniat sungguh-sungguh, menyisihkan hartanya, dan mendaftar haji—lalu terhalang oleh ajal yang di luar kuasanya—sangat layak berbaik sangka kepada Allah atas pahala niatnya.
Dan sembari menanti giliran yang panjang itu, umroh Ramadhan hadir sebagai jalan nyata: kesempatan untuk benar-benar menatap Ka’bah, bersujud di Tanah Haram, dan meraih pahala sebesar haji—tanpa harus menunggu puluhan tahun. Penantian tetap berjalan, tetapi hati tidak lagi kosong dari amal menuju Baitullah.
Umroh Ramadhan Series Alburaq: Wujudkan Sekarang, Tak Perlu Menunggu Puluhan Tahun
Inilah alasan Alburaq menghadirkan Umroh Ramadhan Series—agar kerinduan Bapak/Ibu pada Baitullah tidak harus menunggu 26 tahun ke depan. Setiap paket adalah umroh tangan pertama yang dikelola langsung oleh Alburaq, tanpa perantara, sehingga pelayanan dan kepastiannya lebih terjaga.
Selama di Makkah, jamaah menginap di Hotel Owais yang hanya berjarak sekitar 150 meter dari Masjidil Haram, berada di dalam kawasan portal, dengan medan yang datar—sangat ramah bagi jamaah berusia lanjut. Perjalanan ditempuh dengan penerbangan langsung Lion Air tanpa transit, dan kuota di setiap keberangkatan terbatas. Berikut pilihan paketnya:
| Paket | Sorotan |
|---|---|
| Syaban | Umroh menjelang Ramadhan dengan suasana yang lebih lengang; sudah termasuk makan. |
| Awal Ramadhan | 9 hari menyambut datangnya Ramadhan di Tanah Suci; sudah termasuk makan. |
| Itikaf Makkah | 17 hari—diawali di Makkah untuk beri’tikaf di dekat Masjidil Haram, lalu merayakan Idulfitri di Madinah. |
| Itikaf Madinah | 17 hari—diawali di Madinah, lanjut beri’tikaf di Makkah, dan merayakan Idulfitri di dekat Masjidil Haram. |
| Syawal | Umroh seusai Ramadhan dengan suasana lebih tenang; sudah termasuk makan. |
Tinggal pilih waktu yang paling sesuai dengan kerinduan dan kondisi Bapak/Ibu. Tim Alburaq siap membantu menemukan paket yang paling pas untuk Anda dan keluarga—sebelum kuota keberangkatan terisi penuh.
Kesimpulan & Poin Penting
Bagi Bapak/Ibu yang cemas dengan panjangnya antrian haji, ada beberapa hal yang bisa menenangkan hati:
- Antrian haji reguler kini sekitar 26 tahun; mendaftar di 2026 diperkirakan berangkat sekitar 2052.
- Umroh Ramadhan berpahala setara haji—keutamaan besar yang sahih dan jelas sumbernya.
- Pahala setara bukan berarti pengganti; kewajiban haji tetap melekat bagi yang mampu.
- Niat yang tulus tidak akan disia-siakan Allah, bahkan jika ajal menjemput dalam penantian.
- Bersama Alburaq, umroh Ramadhan bisa diwujudkan sekarang: umroh tangan pertama, Hotel Owais ~150 m dari Masjidil Haram, dan penerbangan langsung Lion Air.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah umroh Ramadhan menggugurkan kewajiban haji?
Tidak. Pahalanya setara haji, tetapi kewajiban haji tetap ada bagi yang mampu, baik secara fisik maupun finansial.
Kapan waktu terbaiknya di bulan Ramadhan?
Keutamaan ini berlaku sepanjang bulan Ramadhan, dari awal hingga akhir. Sebagian jamaah memilih sepuluh hari terakhir agar sekaligus berkesempatan meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Siapa yang paling dianjurkan mempertimbangkannya?
Terutama mereka yang berusia lanjut atau merasa cemas dengan panjangnya antrian haji, sebagai cara meraih pahala besar tanpa menunggu puluhan tahun.
Paket Umroh Ramadhan apa saja yang tersedia di Alburaq?
Alburaq menyediakan lima pilihan: Syaban, Awal Ramadhan, Itikaf Makkah, Itikaf Madinah, dan Syawal—mulai dari umroh menyambut Ramadhan hingga beri’tikaf dan merayakan Idulfitri di Tanah Suci.