Menyentuh dan mencium Hajar Aswad saat tawaf hukumnya sunnah, mengikuti tuntunan Rasulullah. Jika tidak memungkinkan karena padat, jamaah cukup menyentuhnya dengan tangan lalu mencium tangan, atau berisyarat dari jauh sambil mengucap takbir. Yang terpenting, jamaah tidak memaksakan diri hingga menyakiti orang lain.
Apa dalil dan maknanya?
Dari Abis bin Rabiah, Umar bin Khattab mencium Hajar Aswad lalu berkata, sesungguhnya aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak memberi mudarat dan tidak pula manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku tidak akan menciummu (HR Bukhari nomor 1597 dan 1605, serta Muslim nomor 1270). Ucapan ini menegaskan bahwa mencium Hajar Aswad adalah bentuk mengikuti sunnah, bukan karena batu itu memiliki kekuatan.
Bagaimana tingkatan cara menyentuhnya?
- Bila memungkinkan tanpa berdesakan, sentuh dan cium Hajar Aswad.
- Bila tidak bisa mencium, cukup sentuh dengan tangan lalu cium tangan tersebut.
- Bila tetap tidak terjangkau, cukup berisyarat dengan tangan dari kejauhan sambil mengucap Bismillahi Allahu Akbar.
Mengusap Rukun Yamani, yaitu sudut sebelum Hajar Aswad, juga sunnah jika memungkinkan, namun tidak perlu dicium. Adapun sudut Ka'bah yang lain tidak disunnahkan untuk diusap.
Apa adab yang perlu dijaga?
Para ulama dan petugas Masjidil Haram mengingatkan agar jamaah tidak berebut atau mendorong demi mencium Hajar Aswad, karena dapat melukai sesama dan menghilangkan kekhusyukan. Kini area sekitar Hajar Aswad telah diatur dengan sistem antrian. Mengikuti arahan petugas adalah bagian dari adab beribadah.
Apa hikmah di balik kesunahan ini?
Mencium Hajar Aswad mengajarkan pelajaran tauhid yang dalam, yaitu beribadah semata mengikuti tuntunan Nabi, bukan karena benda memiliki kekuatan. Para ulama menjadikan ucapan Umar sebagai dasar bahwa ketaatan kepada syariat tidak selalu harus disertai pengetahuan akan hikmahnya. Sikap ini melatih kerendahan hati dan kepatuhan. Maka, jamaah yang tidak sempat menyentuhnya tetap meraih keutamaan selama meniatkan ittiba kepada Rasulullah.
Karena pelajaran utamanya adalah tauhid dan mengikuti sunnah, jamaah sebaiknya tidak terpaku pada keharusan mencium. Pembimbing ibadah biasanya mengingatkan hal ini agar jamaah tenang dan aman selama tawaf.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah wajib mencium Hajar Aswad?
Tidak wajib. Mencium Hajar Aswad hanya sunnah. Bila padat, cukup berisyarat dari jauh tanpa perlu berdesakan.
Apakah Hajar Aswad memiliki kekuatan menyembuhkan?
Tidak. Sebagaimana ditegaskan Umar, ia hanyalah batu. Penghormatan kepadanya adalah bentuk mengikuti tuntunan Nabi, bukan keyakinan pada kekuatan batu.
Bagaimana jika tidak bisa mendekat sama sekali?
Cukup menghadap ke arahnya saat sejajar, mengangkat tangan, dan mengucap takbir. Tawaf tetap sah.
Dengan memahami hukum dan adabnya, Bapak/Ibu dapat menghormati Hajar Aswad sesuai sunnah, tanpa memaksakan diri dan tetap menjaga keselamatan bersama.
Referensi
- Rumaysho, Kenapa Mencium Hajar Aswad (HR Bukhari 1597, 1605; Muslim 1270). https://rumaysho.com/3618-kenapa-mencium-hajar-aswad.html
- NU Online, Kisah Umar bin Khattab Berbicara pada Hajar Aswad. https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/kisah-umar-bin-khattab-berbicara-pada-hajar-aswad-z2O7x
- Kompas (mengutip BPKH), Hadits dan Aturan Mencium Hajar Aswad. https://cahaya.kompas.com/doa-dan-niat/25J15152500790/hadits-tentang-hajar-aswad-dan-aturan-mencium-batu-dari-surga-di-ka-bah