Cara Memakai Kain Ihram yang Benar untuk Pria dan Wanita

Pakaian ihram pria terdiri dari dua lembar kain putih tanpa jahitan. Satu lembar disampirkan menutupi badan bagian atas dan satu lembar lagi dipakai seperti sarung. Adapun wanita cukup mengenakan pakaian biasa yang menutup aurat, tanpa cadar dan tanpa sarung tangan. Kesederhanaan pakaian ini menyimbolkan kesetaraan seluruh jamaah di hadapan Allah.

Sunnah sebelum memakai ihram

Sebelum berihram, jamaah dianjurkan melakukan beberapa sunnah berikut, karena sebagiannya seperti memotong kuku dan merapikan rambut tidak lagi boleh dikerjakan setelah berniat ihram. Menunaikannya lebih dahulu membuat jamaah lebih bersih dan nyaman selama ihram.

  • Mandi sunnah dan membersihkan badan.
  • Memotong kuku dan merapikan rambut lebih dahulu.
  • Memakai wewangian di badan sebelum mengucapkan niat.
  • Berwudhu, lalu mengenakan kain ihram dan berniat.

Cara pria memakai kain ihram

  • Pakai kain bawah sebagai sarung yang menutup pusar hingga di bawah lutut.
  • Sampirkan kain atas sehingga menutup kedua pundak.
  • Saat tawaf, buka bahu kanan dengan menyilangkan kain dari bawah ketiak kanan ke bahu kiri (idhtiba).
  • Hindari pakaian dalam berjahit, sepatu yang menutup mata kaki, dan penutup kepala.

Cara wanita berpakaian ihram

Wanita mengenakan busana muslimah yang longgar dan menutup aurat, dengan wajah serta telapak tangan dibiarkan terbuka. Warna pakaian tidak diharuskan putih dan tidak ada model khusus, asalkan menutup aurat dengan sempurna dan tidak transparan. Sepatu dan kaus kaki tetap boleh dipakai wanita, karena yang dilarang baginya hanyalah sarung tangan dan cadar yang menempel di wajah. Para ulama menegaskan larangan memakai cadar dan sarung tangan selama dalam keadaan ihram, meski wanita tetap boleh menutup wajah dengan kain longgar yang tidak menempel bila ada laki-laki bukan mahram yang lewat.

Kesalahan umum saat memakai ihram

  • Mengikat kain terlalu longgar sehingga mudah lepas saat berdesakan.
  • Mengenakan pakaian dalam berjahit bagi pria.
  • Memakai wewangian pada kain ihram setelah berniat.

Beberapa jamaah juga menyiapkan kain ihram cadangan dan ikat pinggang berkantong untuk menyimpan dokumen penting. Karena banyak jamaah pemula bingung mengatur kain agar tidak mudah lepas, pendampingan saat pemakaian ihram pertama akan sangat membantu kenyamanan dan kekhusyukan ibadah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Bolehkah memakai ikat pinggang saat ihram?

Boleh. Ikat pinggang yang tidak berjahit menyerupai pakaian dibolehkan untuk merapikan kain dan menahan barang penting.

Bolehkah memakai sandal saat ihram?

Menurut sebagian ulama boleh, dengan menggunakan alas kaki yang tidak menutup seluruh punggung kaki.

Apakah kain ihram harus berwarna putih?

Putih hanya bersifat sunnah dan paling dianjurkan bagi pria. Yang wajib adalah kainnya tidak berjahit membentuk tubuh.

Dengan mengenakan ihram secara benar sejak awal, Bapak/Ibu dapat menjalani seluruh rangkaian umroh dengan rapi, nyaman, dan tenang.

Referensi

  • iNews, Niat dan Tata Cara Haji serta Umrah. https://www.inews.id/lifestyle/muslim/niat-haji-dan-umroh-arab-latin-arti-dan-tata-cara-lengkap
  • Pimpinan Pusat Aisyiyah, Larangan Ihram. https://aisyiyah.or.id/jelang-puncak-haji-ketahui-larangan-ihram-dan-hikmahnya/
  • Sunna Travel, Tata Cara Tawaf Sesuai Sunnah. https://sunnatravel.id/tata-cara-tawaf-sesuai-sunnah/
Umroh sebagai Pemenuhan Panggilan Iman, Bukan Sekadar Wisata